Gelar Yasinan Rutin, Ini Pesan Mendalam Ketua Pengadilan Agama Sentani
Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Pengadilan Agama Sentani Khusyuk Gelar Yasinan

SENTANI – Sebagai wujud nyata dalam memperkuat fondasi spiritual sekaligus menjaga harmonisasi ekosistem lingkungan kerja, Pengadilan Agama (PA) Sentani kembali menggelar kegiatan pembinaan mental melalui rutinitas pembacaan Surat Yasin bersama. Kegiatan keagamaan yang menjadi bagian integral dari agenda instansi ini dilangsungkan dengan khidmat di Mushola Al Mizan, pada Jumat (2/10/2026) tepat pukul 08.00 WIT. Agenda ini dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan, hakim, pejabat struktural dan fungsional, hingga seluruh staf aparatur peradilan.
Prosesi pembacaan Surat Yasin pada pagi yang sejuk tersebut dipandu langsung oleh Zuhri Masykuron, yang melantunkan ayat-ayat suci dengan penuh kekhusyukan. Suasana religius yang terbangun di dalam mushola seakan meleburkan sekat-sekat hierarki birokrasi, menyatukan seluruh aparatur dalam satu majelis yang setara di hadapan Sang Pencipta. Ketenangan batin yang dihadirkan lewat lantunan doa ini menjadi langkah awal yang esensial sebelum para pegawai memulai rutinitas pelayanan publik yang padat.
Setelah pembacaan doa selesai, agenda pembinaan mental dilanjutkan dengan sesi penyampaian tausiah yang dibawakan langsung oleh Ketua Pengadilan Agama Sentani, Nur Ali Renhoat. Dalam kesempatan emas tersebut, beliau tidak sekadar memberikan wejangan normatif, melainkan menyentuh esensi terdalam dari psikologi sumber daya manusia di ranah birokrasi. Tausiah ini dirancang sebagai instrumen refleksi bersama untuk membedah tantangan-tantangan emosional yang kerap muncul dalam dinamika profesional.
Dalam arahannya, Nur Ali Renhoat menyoroti secara tajam bahaya dari sifat hasad, atau dengki apabila dibiarkan tumbuh dan mengakar di dalam ekosistem dunia kerja. Beliau menegaskan bahwa penyakit hati tersebut merupakan racun tak kasat mata yang dapat merusak tatanan profesionalisme. Ketidaksukaan terhadap keberhasilan rekan kerja atau ketidakpuasan atas pembagian tanggung jawab, jika tidak dikelola dengan iman, akan melahirkan kompetisi yang tidak sehat di dalam internal lembaga.

Lebih lanjut, Ketua PA Sentani menjabarkan dampak destruktif dari penyakit hati tersebut terhadap iklim kerja organisasi. Sifat dengki tidak hanya menggerus ketenangan batin dan kesehatan mental individu yang bersangkutan, tetapi juga berpotensi besar menghancurkan soliditas tim. Ketika sinergi antarpegawai retak akibat kecemburuan sosial, maka hal yang menjadi korban utama adalah produktivitas kerja dan kualitas pelayanan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat.
Sebagai penawar dari potensi krisis harmoni tersebut, pimpinan menekankan pentingnya bagi setiap aparatur untuk menumbuhkan rasa syukur yang mendalam atas segala ketetapan dan posisi yang diemban saat ini. Pegawai diajak untuk mengedepankan sikap lapang dada dengan tulus mengapresiasi setiap pencapaian maupun inovasi yang ditorehkan oleh rekan kerja. Sikap saling mendukung dan memotivasi ini dinilai sebagai kunci utama untuk menetralisir energi negatif di lingkungan kantor.
Pesan spiritual ini sangat selaras dengan nilai-dasar aparatur sipil negara yang berorientasi pada pelayanan, keharmonisan, dan kolaborasi. Memupuk sikap saling mendukung antar sesama aparatur pada akhirnya akan menciptakan budaya kerja yang sehat dan positif. Lingkungan kerja yang bebas dari konflik internal tak berdasar merupakan fondasi mutlak bagi Pengadilan Agama Sentani dalam menjaga komitmennya mewujudkan program pembangunan Zona Integritas.
Melalui momentum pembinaan mental yang rutin dilaksanakan ini, Pengadilan Agama Sentani berharap seluruh aparaturnya dapat terus menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Dengan kebersihan hati dan pikiran yang terjaga dari sifat hasad, seluruh energi pegawai dapat difokuskan sepenuhnya pada satu tujuan mulia, yakni menghadirkan penegakan hukum yang berkeadilan serta pelayanan prima bagi seluruh masyarakat pencari keadilan di wilayah Kabupaten Jayapura.

